Pengalaman Membuat Website saat Masih Pemula

Posted on 4 min read

Tidak ada seseorang yang langsung ahli tanpa menikmati proses menjadi seorang pemula. Semuanya seperti itu, begitu pula dengan saya. Disini saya akan membahas tentang pengalaman membuat website saat saya masih pemula.

Sebelum kamu kecewa, saya ingin memberitahu kepadamu. Bahwasannya pada artikel ini saya tidak membahas pengalaman membuat website secara teknis, saya hanya akan membahas lika-liku yang saya alami selama masa pembuatan website.

Dulu tepatnya pada tahun 2011, saya sangat suka membaca website tipe personal blog (bukan media/corporate), alasan saya lebih suka membaca website personal adalah karena dalam tulisan tersebut selalu diselipkan pengalaman dan bahasa yang “gw banget”.

Alasan Tertarik Membuat Website

Website personal yang pertama kali saya baca saat itu websitenya Setiaonebudhi. Saya suka membaca websitenya karena dia juga merupakan pemilik HP Nokia dengan OS Symbian sama seperti saya. Dia membahas aneka tutorial tentang nokia dan symbian, selain itu dia juga kerap menyelipkan artikel-artikel curhatannya yang kadang membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Dari situ saya mulai tertarik untuk membuat website, dengan bermodalkan koneksi internet Hsdpa+ dan artikel panduan di google, akhirnya saya berhasil membuat website pertama saya.

Pengalaman Membuat Website Yang Tidak Bertahan Lama

Setelah website dibuat, kemudian saya terdiam sejenak untuk merenungkan konten apa saja yang harus saya isi pada website tersebut. Saat itu saya berfikir, cerita apa yang menarik dari saya sendiri yang harus saya tuliskan dan dibagikan melalui website ? tidak ada. Akhirnya website tersebut hanya saya isi dengan panduan ataupun tugas yang diberikan oleh guru saya disekolah.

Nama domain yang saya pilih pun termasuk aneh, pasalnya saya menyertakan angka pada nama domain gratis dari wordpress tersebut. Nama domainnya adalah arie135.wordpress.com (websitenya sudah saya hapus 2 bulan setelah dibuat), entah hal apa yang terbesit di pemikiran saya saat itu hingga saya bisa menyertakan angka 135 yang tidak ada maknanya. Ngomong – ngomong, disini saya tidak bermaksud menjelekkan diri saya sendiri, karena memang sudah wajar terjadi untuk semua orang pada fase remaja untuk membuat hal konyol 🙂

Jika saja saat itu saya masa bodoh saja dan tidak mementingkan penilaian orang lain terhadap “konten” saya, saya ingin menceritakan setiap pengalaman yang saya rasakan sehari-hari kedalam sebuah tulisan pada website tersebut. Toh ternyata banyak orang yang lebih senang mendengar cerita kehidupan orang lain, hal ini terbukti sejak Vlog lebih banyak digemari orang saat ini.

Ketika Hobi Menjadi Sebuah Obsesi

Kalau dulu para blogger menulis artikel dengan tujuan hanya untuk sekedar melepas uneg-uneg, hal tersebut berubah 180 derajat ketika google adsense mengumumkan bahwa website yang berbahasa indonesia sudah didukung sepenuhnya yang artinya mereka bisa mendapatkan uang jika mereka bergabung dengan program google adsense.

Hasilnya…

Tulisan yang seharusnya mereka buat berdasarkan uneg-uneg, lambat kian semakin bercampur dengan sebuah obsesi untuk menghasilkan uang yang banyak dari program adsense tersebut. Saya tidak akan menyalahkan para blogger disini, karena yang sebenarnya berperan penting dalam hal ini adalah program google adsense.

Sindrom Google Adsense

Google Adsene ini lah yang berperan penting dalam memperngaruhi tujuan seseorang yang akan membuat website, kalau dulu orang membuat website dengan tujuan sekedar untuk melepas penat, atau yang sedikit lebih ekstrim yaitu biar dikenal banyak orang. Sekarang orang membuat website dengan tujuan untuk menghasilkan uang melalui adsense.

Hal ini juga sempat mempengaruhi saya, ciri-ciri seseorang yang terkena sindrom google adsense adalah bingung mau menulis konten apa, bingung nentuin judul website, memaksakan diri untuk menuliskan artikel dimalam hari padahal udah ngantuk, nulis artikel saat jam kerja, dll. Makanya, tak sedikit blogger yang tumbang (tumbang dalam artian, tidak mengurus websitenya lagi) setelah terkena sindrom google adsense.

Masih untung jika yang terkena sindrom google adsense adalah blogger yang websitenya di host secara gratis dengan blogger, tumblr dan wordpress.com, setidaknya websitenya akan selalu ada di internet kecuali pemiliknya menghapus websitenya. Jika yang terkena sindrom google adsense adalah orang yang menghost websitenya pada hosting dan domain berbayar ? otomatis jika tidak diurus, websitenya akan menghilang dengan sendirinya.

Menulislah saat merasa ingin menulis

Setelah vakum 2 tahun setelah tidak mengurus website saya yang kedua, saya pun merasa kangen menulis, rasa kangen tersebut semakin kuat saat saya merasa galau, akhirnya saya memutuskan untuk membuat website ini.

Setelah membuat website ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempermak tampilan website daripada fokus kepada konten. Banyak draft – draft yang menumpuk, menunggu untuk di revisi dan di publis.

Nah jadi inilah cerita saya mengenai pengalaman membuat website saat masih pemula. Buat kamu yang awam dan berencana membuat website, coba renungkan terlebih dahulu apa tujuanmu dalam membuat website. Coba jauhkan obsesi mendapatkan uang banyak dari keinginanmu membuat website, karena hal itu justru akan menjebakmu sama seperti saya.

Oh iya, hal yang saya tuliskan disini hanya berlaku untuk website personal ya dan hanya berlaku untuk pemula yang lagi kebingungan saat ingin membuat website. Jika ternyata tujuan kamu membuat website adalah untuk berjualan buku, ataupun untuk toko online, hal yang saya utarakan tadi sebaiknya kamu abaikan saja.

Terimakasih.

Gravatar Image
Singkatnya tentang saya, seorang mahasiswa yang tinggal di Medan. Tidak suka mengkoleksi buku tetapi sangat suka membaca, Selengkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *